“Will you marry with me?!!>?!>!>@?!<#)&”
Tuhan..........
anak gaul mana yang gak tau kata itu coba? Perempuan mana yang tidak mau suatu
hari kata itu keluar dan ditujukan untuk dirinya. Merasa terhormat, spesial,
dan apapupun itulah, yang pasti pada hakikatnya setiap manusia termasuk
perempuan pasti ingin dihormati. Dan setidaknya tidak ada manusia yang ingin
hari esok berubah lebih menyedihkan dari pada
hari ini bukan? Sebuah ikatan suci bernama pernikahan setidaknya dapat
memperjelas pembeda antara manusia dengan binatang. Setiap kali saya pulang
kerumah, setidaknya dalam jangka waktu
satu bulan atau tiga bulan pasti mendapatkan kartu undangan, baik undangan
pernikahan, sunatan, aqiqahan, tujuh bulanan, yang tidak datang hanya surat
lamaran #hufh. Hahaha lupakan.
Ya, jika saya
ingat-ingat sebagian kawan sewaktu kecil sudah berstatus sebagai ibu rumah
tangga dan janda (maaf). Sebuah perubahan status yang luar biasa bukan? Dari
anak perawan, jadi istri seseorang. Dari seorang anak, jadi emak-emak. Jangan
mupeng pembaca... inti catatan ini bukan itu, tenang!
Saya pernah
bertemu dengan kawan SD, wajahnya tampak berbeda. Badannya kurus, rambutnya
panjang tapi kusut, awalnya kami malu-malu untuk menyapa, tapi kenangan masa
lalu berlarian membuat kami lupa bahwa usia kami sudah cukup tua. Kalimat
pembuka yang dia luncurkan padaku saat itu, “sudah punya anak berapa
putriiiiiii?” Tuhan..... emang wajah saya ibu-ibu banget yak, sampai harus
keluar kalimat pembuka “sudah punya anak berapa?”, baiklah lupakan. L
Sahabat saya
banyak bercerita mengenai kawan-kawan SD kami, dia bilang si S udah nikah sama
si E, si F sudah punya anak sekian, si M bulan depan mau nikah, si G udah cerai
2 kali, sampai pusing saya mendengarnya. Bukan pusing karena memikirkan betapa
sudah tertinggalnya saya dengaan kawan-kawan saya itu, tapi betapa tidak habis pikir saja!! Bagaimana mungkin mereka
dengan mudah memutuskan untuk melabuhkan hidup dalam bahtera rumah tangga.Karena
ini kehidupan nyata, kehiduapan sesungguhnya, ini bukan anak-anakan, bukan emak-emak-an,
atupun nikah-nikah-an. TAPI, ini benaran “Pernikahan”.
Menikah....ya
menikah. Memang sebuah ikatan yang suci dan sangat disucikan. Menikah sama
dengan menyempurnakan setengah agama, berat bukan? Ya berat, tapi mulia :D.
Maka tidak menjadi salah, dan saya tidak menyalahkan ikatan tersebut. Saya
hanya ingin bertanya ulang kepada kawan-kawan saya itu. Pola kehidupan mereka
hampir sama, mereka bekerja di pabrik, suami-suami mereka mengasuh anak, dan
anak-anak mereka hadir mengisi jumlah data BPS negara. Apakah itu hari esok
yang mereka mimpikan dulu saat mereka memutuskan untuk menikah?
Sekali lagi
bukan ikatan pernikahannya yang saya komentari, tapi bagaimana persiapan
menjadi seorang istri, seorang ibu yang sudah mereka persiapkan. Fenomena yang
muncul, mereka menikah karena tertangkap hansip (you know what i mean guys...)
sebuah rencana pernikahan yang disusun dengan sesingkat-singkatnya, tidak jauh
beda singkatnya dengan penyusunan proklamasi kemerdekaan negara kita.
Girls, saat kita
memutuskan untuk menikah semua tidak akan terhenti sampai disini saja. Kita menikah,
to titik... tidak! Ada hal lain yang siap menyambutmu, mulai dari mendidik
anak, dan menjadi istri yang shalehah. Nahloh! Ilmu saya masih belum dalam
mengenai itu girls, tapi yang saya ingatkan mengenai anak-anak yang akan lahir
dan menghentakan dunia dengan tangisannya. Coba lihat, anak-anak yang tumbuh
dalam rahimmu itu. Mereka menangis, dan memiliki mata yang bercahaya. Mata-mata
mereka bertanya, akan kemana ‘mama’ membawa saya ketika saya besar. Apakah
mereka akan menjadi anak yang sama seperti denganmu? Dengan kehidupanmu?
Besar-Bekerja-Menikah-Mati-Besar-Bekerja-Menikah-Mati. #fiuh....
Lalu dimana
hentakan peradaban yang akan engkau atau anakmu getarkan? Aku rasa, setiap anak
yang terlahir adalah para penggentar dunia. Tidak peduli dia lahir dari kelas
apa, dengan jenis kelamin apa, warna kulit apa, atau mendapatkan asupan gizi
berapa. Mereka sama.... calon penggetar dunia, memiliki kesempatan yang sama
untuk menggetarkan dunia! Tapi getaran mereka tidak akan terasa dahsyat jika
tangan kita sebagai ibu tidak menuntunnya untuk meraba inti peradaban dan
menggoncangkannya.
Coba tengok
bangsa kita, sudah sangat kacau, berumur muda, tapi berpikiran gaya orang tua.
Mudah pasrah, lari dari masalah, senang makan yang gampang-gampang saja, tidak
jauh beda dengan mbahku yang lebih suka pilih makan bubur dari pada makan
kacang goreng yang beda tipis sama gosong itu. Hah, apakah engkau masih
mengijinkan belitan kemiskinan itu mengelilingi kehidupanmu, dan keturunan mu?
Jangan terlalu menyalahkan orang diluaran saat bangsa kita tidak mampu
sejahtera, saat iblis kembar bernama kemiskinan dan kebodohan masih menjadi
sahabat baik takdir kita, mungkin kita ikut berkontribusi dengan semuanya
girls. Karena kita memang tidak menjadikan atau mempersiapkan rahim kita untuk bersemayamnya
para perubah itu.
Lalu sekarang
apa? Yang lalu biarkan lah berlalu, masih ada kesempatan untuk merubah
semuanya. Karena hidup kita, tidak akan berakhir pada kita saja. Tapi akan
berkelanjutan pada anakmu, cucumu, dan keturunanmu. So.... saat seseorang
datang kerumahmu dan berkata “will you marry with me?” katakan padanya, apakah
siap untuk menciptakan Sang Penggetar Dunia?! Jika dia tidak menjawab atau
bingung, maka lupakan! #asik.
Komentar
Posting Komentar