Tenggelam

Wahai malam yang kembali datang, aku senang menikmati separuh bulanmu yang sudah bangkit dari matinya. turut menenggelamkan badan dengan kelelahannya. Wahai malam, terimakasih atas sejuknya udara malam ini yang menggelitik hati yang sedang berwarna kemerahan. Wahai malam, tak mengapa langitmu kelam tiada gemintang, karena satu bintang sudah terang menerangi disudut malam bagian lain. Wahai malam, sampaikan kepada Sang Pemilik Malam, bahwa hati hambanya malam ini sedang berwarna merah kemerahan. Bukan dia terbuai dengan kehinaan, namun berdegup menanti sebuah janji yang setiap selanya menyulam dzikir para malaikat. Wahai malam, ingin aku tenggelam dalam kelamnya langitmu yang begitu legam, tapi sangat menyejukan. Muda-mudi mondar-mandir berduaan mengitari bumi Tuhan, sama dengan ku yang bolak-balik menikmati malam di bumi Tuhan.
Wahai malam yang berlangit kelam, mereka bilang aku alay. Menulis semua kata yang begitu saja hadir menusuk-nusuk jemariku untuk meneriakan. Aku sedang malu wahai malam, malu ditelan warna kemerahan yang menyusup pelan-pelan. aku ingin tenggelam ditelan senang wahai malam. Hari ini, kemarin dan entah sampai kapan aku selalu begitu saja bercerita, berbagi mimpi, yang aku sendiri tak mengerti wahai malam kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja. Sehingga membuat aku merasa kemerahan seperti sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maaf... :(

Ibu

Perempuan dan Cerita