Labelling dan Islam (Jawaban UAS) :)

Teori labelling adalah sebuah teori yang muncul sebagai respon atau feedback yang didapatkan oleh seseorang atas tindakan atau perilakunya kepada masyarakat atau orang lain diluar dirinya. Setiap anggota kelompok masyarakat akan mengikuti norma dan aturan yang berlaku ditengah kelompoknya, walaupun dalam penerapannya dapat berupa paksaan ataupun atas dasar kesadaran individu itu sendiri (Teori Konformitas). Akan tetapi, tidak semua awan berwarna putih. Tidak semua masyarakat atau anggota kelompok dapat berjalan beriringan dengan apa yang diingankan oleh masyrakatnya. Mereka yang dianggap berbeda atau “outer side” akan di berikan Labell dan perlakuan berbeda (misalnya, dianggap ekslusif). Dalam merespon labelling yang diberikan oleh masyarakat terhadap dirinya (objek), ada dua tindakan yang akan dia pilih. Pertama, objek merubah dirinya dan berjalan seiringan dengan apa yang diinginkan masyarakatnya (menghapus Labell yang diberikan kepada dirinya). Kedua,  menerima labell yang diberikan dan menginternalisasikan dalam hidupnya, sehingga dia merubah dirinya sesuai dengan apa yang orang lain labell-kan terhadap dirinya.
Banyak sekali kerugian dari teori lebelling ini, khususnya bagi objek yang ter-lebell. Biasanya para korban berupa kaum minoritas, marjinal, dan kelompok agama tertentu. Kali ini, saya akan mencoba menghubungkan teori labelling dengan Islam.
Beberapa tahun kebelakangan ini, telinga kita masih hangat dengan Istilah “Teroris dan golongan Islam Radikal”. Teroris adalah sebuah pergerakan ilegal yang bermaksud mempengaruhi pertahanan serta keamanan  negara yang dapat berakhir pada penggulingan kekuasaan atau penghapusan negara (M. Mustofa). Tetapi, isu ditengah masyarakat awan sast ini, teroris jauh dari definisi sebenarnya. “Siapa menunjuk Siapa?” begitu ucapan salah satu pembicara di seminar “Peace Building” yang diselenggarakan oleh Departemen Kriminologi, FISIP UI beberapa bulan yang lalu.
Salah satu senior saya pernah bercerita mengenai pengalamannya dengan teori Labelling. Saat itu, beliau menggunakan angkutan umum untuk pergi ke suatu tempat. Tiba-tiba, masuklah seorang akhwat dengan mengenakan kerudung panjang serta lengap dengan atribut lainnya. Dua orang wanita yang duduk tepat didepan senior saya saling berbisik (tapi dengan nada yang keras) mereka berkata
“Eh, TERORIS.....”
“Ia bener,... awas ditasnya bawa BOM”
Si akhwat yang sedang dibicarakan menoleh kearah suara. Tiba-tiba si akhwat langsung  turun dari angkot, tanpa ada pembelaan apapun.
Labell Teroris terhadap Islam memang masih melekat dalam  msyarakat kita, khususnya kelompok Islam yang dianggap Radikal. Sulit untuk menunjukan dalang dari “sipengeruh” keadaan ini. Banyak sekali dampak yang diberikan dari Labelling,pertama, setiap orang marasa takut mempelajari Islam secara kaffah, karena adanya anggapan pengrekrutan atau kaderisasi dari kelompok Teroris. Kedua, umat muslim semakin canggung menunjukan dirinya sebagi seorang “muslim”, misalnya seorang wanita yang mengenakan kerudung. Ketiga, adanya pengekslusif-an yang diberikan oleh masyarakat terhadap kelompok yang diangap berbeda, misalnya para akhwat yang sulit bergabung karena sudah ada anggapan “asing”. Keempat, semakin malunya umat muslim mengikuti sunah Rasull, dikarenakan  adanya Cap kelompok ekstrem terhadap orang-orang yang mengikuti sunah Rasull.
Bagaikan keranjang sayuran, dimana didalamnya terdapat satu jenis sayuran yang busuk. Kemudian dengan mudah sipemilik keranjang mengatakan bahwa smua sayuran didalamnya busuk. Begitupun dengan Labelling ini, hanya oknum tertentu saja yang mangatas namakan Agama serta bertindak diluar perintah Agama. tetapi dampak yang dia berikan mencakup semua golonga dalam agama tersebut.
Labelling yang diberikan oleh orang-orang tertentu terhadap Islam, akan mengganggu perkembangan  agama Islam itu sendiri. Semakin keruhnya tali persaudaraan antar umat Islam, karena adanya pengelompokan Islam Radikal/ekstrem, Islam Liberal, dan Islam Tradisional. Padahal umat muslim itu bagaikan satu tubuh, tidak ada pengelompokan didalamnya, tidak ada perbedaan didalamnya. Saat umat muslim yang lain merasakan sakit, maka semua umat muslim yang lain kan mersakan sakit pula. Hal ini pula, yang menghambat umat Islam lambat membela saudaranya, menyelamatkan darah saudaranya, menghapus air mata saudaranya... kita malu dan tidak mau tahu mengenai nasib dan keadaan saudara kita di Palestina. Karena, sekali lagi pemikiran kita telah terkotak dengan Labell Teroris dan Golongan Islam Radikal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maaf... :(

Ibu

Perempuan dan Cerita