Cinta,..Cinta,...Lagi-Lagi,..Cinta!!!
Semuanya berawal dari beban dan rencana hidup yang sudah saya rancang jauh-jauh hari. Awalnya tidak pernah terpikir semua akan berjalan seperti ini, tapi ya.. sudahlah.... mungkin memang harus seperti ini. Masa baru di kasih sedikit masalah saja sudah mengeluh.... Iya tooh???
Setiap jejak-jejak kecil mulai tersusun mengikuti jalan setapak menuju impian, semakin lama semakin mendekati. Aroma keberhasilan mulai tercium, angan-angan yang dibisikan oleh musuh adam mulai terdengar disetiap sudut daun telinga. Menjalar dengan cepat, secepat kilat. Menguasai setiap benih harapan. Jalan setapak yang sempit ini, mulai dipadati oleh ribuan mimpi sampah para Generasi yang mengatakan dirinya Perubah bangsa. Serta persaingan mulai tampak, satu sama lain berlomba mengumpulkan selembar kertas yang diakhiri dengan sebuah coretan benang.
Tetapi semuanya seketika berubah, saat angin Asrama datang dengan lembut menarik kaki yang lemah tadi. perlahan tapi pasti,.... menarik langkah kecil keluar dari jalur. Jalan setapak yang menjadi acuan tiba-tiba menghilang begitu saja, bagaikan hilang ditarik gaya magnet bumi. ribuan mimpi yang memadati jalan sempit itu, seolah ditelan oleh awan yang turun bertemu sang bumi. Ditengah kebingungan, hanya sebuah navigasi yang menjadi tuntunan. Perlahan tapi pasti, langkah-langkah kecil..... Mulai meninggalakan jalurnya.
Asrama.... Asrama..... Lagi... Lagi.... Asrama......
Satu lembar kertas putih mengadu berada di genggaman, meminta 100 coretan benang mewarnai warnanya yang putih bersih. Langakah-langkah kecil meninggalkan jejak-jejak transparan ditangga-tangga gedung Asrama Putri yang selang lima menit hilang menguap tak tersisa. Naik... Turun.... Naik..... Turun.... Saat berada lantai atas gedung E2, tampak jelas arah langit dan ujungnya. Menangis.... ya menangis!!! Cukup Menangis!!! dan Hanya Menangis!!!
27 lantai yang aku jelajahi bukan hanya semata-mata demi sebuah coretan benang di kertas semata, tapi untuk sesuatu yang luar biasa, yaitu untuk cinta.
Asrama.... Asrama.... Lagi.... Lagi.... Asrama....
Lorong-Lorong gedung sepi dan semakin menua, menertawakan secara perlahan. Kehampaan membuat hentakan diatas lantai terdengar, semakin menekik kesendirian dan kesepian dalam pencarian coretan benang. Tapi lagi... Lagi... bukan hanya semata demi coretan benang, tetapi untuk cinta. Bayangan hitam yang tergambar dilantai Asrama yang kusam, menyindir kesendiriaan saat itu. Tapi lagi-lagi Bukan demi sebuah coretan benang aku bertahan sendiri, tapi untuk cinta.
Kemenangan yang telah di harapkan akhirnya tiba dan dapat 'kami' dapatkan. Lega sudah pejuangan lelah ku saat itu. Ledekan tawa lorong-lorong, cercaan bayangan di lantai, hancur sudah oleh Indahnya sebuah kemenangan. Tapi lagi-lagi bukan kemenangan 'aku' atau 'saya' atau 'ana' yang aku cari, Karena terlalu naif seorang 'aku' 'saya' dan 'ana' memenangkan ini. Memang tidak logika apa kebahagiaan yang aku dapatkan, tapi semua untuk Cinta.
Maka, dalam perjalanan luar jalur ini aku mulai mengenal Cinta dan belajar menCintai. Cinta yang tidak hanya bermakna duniawi, yang akan mudah pergi walaupun hanya tertiup bersin seorang bayi. Tapi Cinta yang akan tetap Hakiki, bertahan, mengakar, menjalar, dan menguasai. Dimana setiap pengorbananya menjadi Nikmat, setiap Lelahnya menjadi Berkah, dan setiap ketidak 'logikaannya' menjadi kebenaran dan kebaikan.
Cinta... Cinta... Lagi... Lagi... Cinta......
Cinta yang karena Rabb yang Maha Pecinta!!!
Setiap jejak-jejak kecil mulai tersusun mengikuti jalan setapak menuju impian, semakin lama semakin mendekati. Aroma keberhasilan mulai tercium, angan-angan yang dibisikan oleh musuh adam mulai terdengar disetiap sudut daun telinga. Menjalar dengan cepat, secepat kilat. Menguasai setiap benih harapan. Jalan setapak yang sempit ini, mulai dipadati oleh ribuan mimpi sampah para Generasi yang mengatakan dirinya Perubah bangsa. Serta persaingan mulai tampak, satu sama lain berlomba mengumpulkan selembar kertas yang diakhiri dengan sebuah coretan benang.
Tetapi semuanya seketika berubah, saat angin Asrama datang dengan lembut menarik kaki yang lemah tadi. perlahan tapi pasti,.... menarik langkah kecil keluar dari jalur. Jalan setapak yang menjadi acuan tiba-tiba menghilang begitu saja, bagaikan hilang ditarik gaya magnet bumi. ribuan mimpi yang memadati jalan sempit itu, seolah ditelan oleh awan yang turun bertemu sang bumi. Ditengah kebingungan, hanya sebuah navigasi yang menjadi tuntunan. Perlahan tapi pasti, langkah-langkah kecil..... Mulai meninggalakan jalurnya.
Asrama.... Asrama..... Lagi... Lagi.... Asrama......
Satu lembar kertas putih mengadu berada di genggaman, meminta 100 coretan benang mewarnai warnanya yang putih bersih. Langakah-langkah kecil meninggalkan jejak-jejak transparan ditangga-tangga gedung Asrama Putri yang selang lima menit hilang menguap tak tersisa. Naik... Turun.... Naik..... Turun.... Saat berada lantai atas gedung E2, tampak jelas arah langit dan ujungnya. Menangis.... ya menangis!!! Cukup Menangis!!! dan Hanya Menangis!!!
27 lantai yang aku jelajahi bukan hanya semata-mata demi sebuah coretan benang di kertas semata, tapi untuk sesuatu yang luar biasa, yaitu untuk cinta.
Asrama.... Asrama.... Lagi.... Lagi.... Asrama....
Lorong-Lorong gedung sepi dan semakin menua, menertawakan secara perlahan. Kehampaan membuat hentakan diatas lantai terdengar, semakin menekik kesendirian dan kesepian dalam pencarian coretan benang. Tapi lagi... Lagi... bukan hanya semata demi coretan benang, tetapi untuk cinta. Bayangan hitam yang tergambar dilantai Asrama yang kusam, menyindir kesendiriaan saat itu. Tapi lagi-lagi Bukan demi sebuah coretan benang aku bertahan sendiri, tapi untuk cinta.
Kemenangan yang telah di harapkan akhirnya tiba dan dapat 'kami' dapatkan. Lega sudah pejuangan lelah ku saat itu. Ledekan tawa lorong-lorong, cercaan bayangan di lantai, hancur sudah oleh Indahnya sebuah kemenangan. Tapi lagi-lagi bukan kemenangan 'aku' atau 'saya' atau 'ana' yang aku cari, Karena terlalu naif seorang 'aku' 'saya' dan 'ana' memenangkan ini. Memang tidak logika apa kebahagiaan yang aku dapatkan, tapi semua untuk Cinta.
Maka, dalam perjalanan luar jalur ini aku mulai mengenal Cinta dan belajar menCintai. Cinta yang tidak hanya bermakna duniawi, yang akan mudah pergi walaupun hanya tertiup bersin seorang bayi. Tapi Cinta yang akan tetap Hakiki, bertahan, mengakar, menjalar, dan menguasai. Dimana setiap pengorbananya menjadi Nikmat, setiap Lelahnya menjadi Berkah, dan setiap ketidak 'logikaannya' menjadi kebenaran dan kebaikan.
Cinta... Cinta... Lagi... Lagi... Cinta......
Cinta yang karena Rabb yang Maha Pecinta!!!
Komentar
Posting Komentar