Arti Sebuah Percakapan
Pada masa Bimbingan kemarin, saya terpaksa pulang keDepok untuk bertemu dengan PA (Pembimbing Akademik). Setelahnya, saya langsung balik lagi ke kota Tercinta, Sukabumi.Saya memilih naik Bis dari pada kereta yang harus disambung menggunakan angkot. Saya sedikit takut naik angkot 03 dikarenakan ada trauma tersendiri. Bukan masalah pemerkosaan di angkot yaww, tapi kasus kriminal yang lain. ya udah lah ya,... yang lalu biar berlalu.
Nah ceritanya, hari itu jalanan muacet banget.... sampe-sampe saya sempat menghasilkan beberapa episode mimpi.. :( . Karena bis yang saya tumpangi bis minibus, jadi penjual apapun bisa masuk kedalam bis. Kecuali penjual sate, penjual sapi, penjual diri ( lah?!?!!). Sutrah lah ya tidak penting..
Ceritanya, masuk lah sipenjual buah salak. Pas pertama masuk, dia langsung berjalan kebagian depan mobil. Terus teriak-teriak
"salaknya ibu, bapak... salak pondoh asli. silahkan dicoba" Sambil mempublikasikan (?) buah salak yang di bawanya. Tidak ada respon apapun dari para penumpang, mereka semua diam seribu bahasa. Karena kesal, si abang penjual buah salak mengulang tawarannya dengan nada yang meninggi dan menawarkan salaknya untuk di coba (*sedikit maksa penjualnya). Tetapi lagi-lagi,..... tidak ada respon. Karena kesal si penjual langsung terjun dari lantai 11, eh maksudnya langsung turun dari bis. Sopir Bispun tidak memperdulikan si penjual Salak yang tertinggal di Ciawi. Jelang beberapa kilometer, ada lagi si Penjual Salak yang masuk. Pas pertama masuk, dia menyapa semua penumpang dan pak sopir.
"selamat siang menjelang sore ibu bapak, pak sopir..(sambil senyum-senyum), mohon maaf apabila menganggu perjalanan ibu,dan bapak. Saya hanya sedang mencari rizky, yang Allah tebarkan diseluruh muka bumi (para penumpang tidak berekspresi, malah sebagin pura-pura tidur, sampai akhirnya si Penjual Salak melanjutkan pembicaraanya), dan mudah-mudahan Rizky saya ada keselip di dompet bapak-bapak sama ibu-ibu"
Kemudian dia berjalan kedepan dan menyapa si ibu-ibu yang duduk paling depan.
"Bu.. Buah salaknya bu, salak madu,ibu... asli..." si Ibu diem aja.
"Bu, kenapa diem aja. Biar engga diem aja, silahkan dicoba buah salaknya ibu, saya mah baik ibu, ibu gak jawab pertanyaan saya, saya tawarkan buah salak gratis (walaupun hanya satu buah)" ucap si penjual salak dengan logat sundanya yang kental. Si ibu yang diajak bercanda mengangkat lima jarinya dan mengisyaratkan menolak tawaran si penjual salak.
"bukan 50 ribu ibu, sepuluh ribu 40 biji aja ibu..." si ibu tertawa,
"masa sepuluh ribu 40 biji, kecil-kecil gitu salaknya.." Si ibu mulai angkat bicara
"eh si Ibu, yang bikin salak bukan saya tapi Allah. Jadi kalo ukurannya kecil-kecil jangan salahin saya, kan bukan saya yang bikin ukurannya ibu.." semua penumpang tertawa, termasuk si pak supir.
"ya atuh.. sepuluh ribu 50 biji aja, kan kecil-kecil" tawar si Ibu
"ah ibu kalo menurut saya ini ukurannya gede, kalo dibandingin kacang tanah yang ibu makan" jawab si penjual sambil menunjuk kacang rebus yang sedang dimakan si Ibu. Rasa kesal karena macet dan kepanasanpun mencair begitu saja, dan alhasil..... salak yang dijual si pedagang hampir dibeli oleh semua penumpang,kecuali saya dan teman sebangku saya.
Subhanallah ya, padahal menurut saya buah salak yang ditawarkan sipenjual Pertama lebih bagus dari pada yang ditawarkan sipenjual kedua, tetapi karena sikapnya dan nada bicarnya yang membuat para pembeli tertarik. Padahalkan si penjual sedang mempromosikan salak, bukan sedang mempromosikan sebuah candaan atau apapun..
Tetapi ternyata orang lain akan menilai sikap yang kita keluarkan, saya jadi teringat materi mengenai Pribadi seorang Muslim. "Seorang muslim itu sempurnanya tidak ekslusif, tetapi bersahaja dan membuat semua orang hangat dengannya." (Bukan berarti dia bulu domba yang bisa menghangatkan, tetapi lebih dari sekedar bulu domba... *analogi yang aneh). ketika kita berhasil menunjukan pribadi seorang muslim yang menyenangkan, otomatis pandangan orang lain yang mencap islam itu ekstrem dan lain sebaginya akan hilang dengan sendirinya. Selayaknya si penjual salak, ketika dia bisa mengambil hati para calon pembelinya. Dengan seketika buah salak yang dia bawa habis seketika.
Satu pelajaran lain yang dapat dipetik, "Be Different" jadilah berbeda. ^_^
Komentar
Posting Komentar