Cerita Seberang Istana
“Gema adzan ashar, sentuh
telinga. Buyarkan mimpi sikecil yang tadi.
Dia berdiri malas
melangkahkan kaki, di raihnya mimpi tak dilepaskan lagi”
Mengutip salah satu lirik lagu Siang Sebrang
Istana karya Bang Iwan Fals, membuat saya semakin membelak mata akan fakta yang
sedang terjadi pada anak bangsa kini. Lahir di negri berkembang memang bukan
pilihan kami ataupun mereka, tapi melepaskan bangsa dari belenggu kemiskinan
adalah keharusan setiap jiwa yang lahir di tanah pertiwi ini. Sebuah surat
kehidupan selalu mereka kirim melalui angin yang selalu membisikan pada telinga
kita akan derita dan keluh mereka mengenai keadilan, kesejahtraan, dan
ketentraman. Jerit tangis mereka selalu mereka tulis diatas benteng jalanan
yang kian menebal dengan rintihan si mungil karena kelapar. Tapi lagi-lagi, mata
dan telinga kita terlalu pengap oleh debu ‘keserakahan’ (Mungkin) sehingga tak
terdengar setiap jerit dan rintih mereka yang seolah tak lagi mendapatkan
tempat di Negri yang Luas ini.
Hidup di
negri yang Kaya akan sumber daya alam, tidak menjamin malam-malam mereka
tentram. Bagaikan kelaparan dilumbung padi, mungkin ini realita bangsa kita. Untuk
mencari sesuap nasi saja merupakan perjuangan yang luar biasa, apa lagi
mendapatkan pendidikan yang layak. Berseragam sekolah tak lagi mereka temui,
lalu bagaimana mungkin rantai kemiskianan bangsa ini akan terputus? Jika
kebodohan masih menjadi belahan jiwa kemiskinan. Saya pernah melihat sebuah
keluarga yang cukup menyayat hati sebagai bangsa yang bersilakan ‘Keadilan
Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia’. Seorang ibu dengan puntung rokok
ditangannya, menggendong seorang Balita yang terkena penyakit polio. Badan
balita itu sangat kurus, matanya bulatnya mengeluarkan air mata, dan jeritan
tangisnya seolah merobek dinding Istana megah para Raja yag mengacung-acungkan
kaki di atas kursi durinya. Disampingnya seorang anak berseragam sekolah dasar
berdiri memeluk tumpukan koran, lalat-lalat menghinggapi kakinya yang tak
beralas kaki, dipandangi wajah orang-orang didalam koran yang di dekapnya.
Mungkin hatinya bertanya, siapa mereka? apakah mereka pahlawan yang katanya
akan melepaskan kami dari pelukan kemiskinan dan penderitaan?
Entah akan dibawa kemana bangsa ini, melihat
keatas mereka sibuk berbenah dasi (walau tidak semua). Melihat kebawah, mereka
tak lagi peduli arti dan semangat Nasionalisme yang diperjuangkan mati-matian
oleh para pejuang Bangsa. Lalu akan dibawa kemana nasib bangsa? Sampai kapan
tangisan di sebrang Istana akan terdengar? Apakah kita hanya berpaku tangan,
seolah tak peduli. Bukankah kita adalah generasi yang beruntung yang bisa
mengenyam pendidikan di kampus rakyat (UI). Akankah kita menjadi angin segar
bagi mereka? lalu untuk apa kita berada di Fakultas Jingga (FISIP)? Jika tak
pernah sedikitpun batin kita terparti pada penderitaan saudara kita? Bukankah
kita terikat sebagai saudara seiman juga???
Allah swt Berfirman
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
Qs.
Al-Hujuraat:10
Sebagai generasi baru, sebagai seorang pemuda
Muslim, sebagai satu saudara seiman. Kita makmurkan dan tegakan keadilan kembali
di bumi Allah, kita jalankan kembali amanah yang diberikan sebagai Khalifah. Dengan
diawali langkah belajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dan kelak ilmu
yang kita dapatkan akan sangat bermanfaat untuk orang lain, kemampuan yang
Allah berikan kepada kita akan diminta pertanggung jawabanNya.
Komentar
Posting Komentar