Apa Yang berbeda dengan Ramadhan kali Ini?

"Apa yang beda dengan ramadhan kali ini?"

Begitulah sore tadi berlalu, seorang 'teteh' yang luar biasa dan terkenal dengan keramahannya memulai pembicaraan. Sebenarnya sore itu saya sangat merasa lelah, tapi pertanyaan yang si'teteh' lontarkan membuat lelah saya tertimbun begitu saja. pertanyaan yang diberikan oleh si'teteh membuat saya merasakan kembali kesalahan yang hampir saja saya lupakan.


Ramadhan kali ini, saya merasa sangat bersalah. sangat bersalah tidak bisa mewujudkan harapan mereka. Harapan untuk melingkar bersama pada saat adzan magrib. Harapan, pergi bertiga menyelusuri gelapnya jalan menuju mushola.
Rasanya, berat sekali pada saat harus bilang
'mah, aku mau balik lagi ke Depok.' rasanya kata-kata yang jahat banget. Ya bagimana tidak, diwaktu libur seperti ini seharusnya benar-benar bisa menghapus kesepian mereka dtambah lagi ini bulan ramdhan. Kadang sempet terbayang, saat disini saya berbuka dengan riuh orang-orang. disana, mereka hanya duduk berdua. kadang masih ingat komentar bapak saat saya duduk berbuka bersama mereka
' biasanya, meja makan tidak seramai ini' Ya memang seperti itu, jika tidak ada kami (anak-anaknya) meja kayu ini tampak sepi. mungkin hanya ada secangkir kopi milik bapak, sebungkus rokok, 5 buah goreng bakwan, sebakul nasi, ikan asin, dan lalapan(maklum orang sunda). sayapun semakin terbayang dengan sahur mereka, pasti hanya ditemani dengan sebungkus mie instan.
Semua bukan karena keterbatas ekonomi, tapi
'teu nikmat emam duaan mah, syarat hungkul we'
artinya
'tidak nikmat makan berdua, makan sebagai syarat saja lah..'


huh.. sore itu pun rasa bersalah ini muncul kembali. Rasanya ingin merobek buku agenda harian yang tidak seberapa tebal itu, dan meninggalkan konsekuensi dari semua pilihan yang sok-sokan aku ambil ini.  Tapi siteteh yang aku bilang super teteh ini, berkomentar.
'neng, Allah pasti bersama bila kau bersamanya. Allah pasti menolongmu, jika kau menolong agamanya. Titipin ke Allah aja neng, InsyaAllah.'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maaf... :(

Ibu

Perempuan dan Cerita