Cerita Seberang Istana
“Gema adzan ashar, sentuh telinga. Buyarkan mimpi sikecil yang tadi. Dia berdiri malas melangkahkan kaki, di raihnya mimpi tak dilepaskan lagi” Mengutip salah satu lirik lagu Siang Sebrang Istana karya Bang Iwan Fals, membuat saya semakin membelak mata akan fakta yang sedang terjadi pada anak bangsa kini. Lahir di negri berkembang memang bukan pilihan kami ataupun mereka, tapi melepaskan bangsa dari belenggu kemiskinan adalah keharusan setiap jiwa yang lahir di tanah pertiwi ini. Sebuah surat kehidupan selalu mereka kirim melalui angin yang selalu membisikan pada telinga kita akan derita dan keluh mereka mengenai keadilan, kesejahtraan, dan ketentraman. Jerit tangis mereka selalu mereka tulis diatas benteng jalanan yang kian menebal dengan rintihan si mungil karena kelapar. Tapi lagi-lagi, mata dan telinga kita terlalu pengap oleh debu ‘keserakahan’ (Mungkin) sehingga tak terdengar setiap jerit dan rintih mereka yang seolah tak lagi mendapatkan tempat di Negri yang Luas ini. ...